Pages Navigation Menu

TAPIR SUMATERA TERJERAT DI HUTAN ADAT GUGUK

TAPIR SUMATERA TERJERAT  DI  HUTAN ADAT GUGUK

Merangin, 28 September 2014.

JERAT HARIMAU TELAN KORBAN TAPIR DI  HUTAN ADAT GUGUK KABUPATEN MERANGIN JAMBI.

Kawasan hutan Adat Guguk di Desa Guguk Kecamatan Renah Pembarap Kabupaten Merangin Propinsi Jambi  memiliki potensi kekayaan alam yang cukup besar termasuk satwa langka.  Kawasan ini termasuk  dalam kelompok HutanProduksi Batang Nilo yang telah ditetapkan dan dikelola secara hukum adat. Hutan adat Desa Guguk memiliki luasan sekitar  690 Ha berada di Kecamatan Renah Pembarap   dan   merupakan salah satu hutan penyangga TNKS (Taman Nasional Kerinci Sebelat).

Hardi Yuda staf Lembaga Tiga Beradik mengatakan,  berdasarkan hasil monitoring kawasan hutan dan satwa yang dilakukan oleh LTB (Lembaga Tiga Beradik) bersa mamasyarakat pada tanggal 23 sampai dengan  25 September 2014 diwilayah Hutan Produksi Batang Nilo. Dari Desa Guguk hingga Muara Sungai Nilo ditemukan beberapa jerat harimau aktif.  Ditemukan     2 (dua) jerat harimau, satu dalam kondisi aktif dan satu jerat terkena se-ekor tapir sumatera (Tapirus indicus)  jantan dewasa diperkirakan berumur 4 (empat) tahun.

Dan empat hari sebelumnya masyarakat adat  yang melintas patroli  dikawasan tersebut juga mengangkat 4 (emat) jerat harimau aktif.  Setelah dilakukan pengangkatan / pemusnaan semua jerat harimau oleh LTB bersama masyarakat kita berharap tidak ada lagi jerat yang aktif di dalam hutan.   Jerat-jerat yang ditemukan Tim diperkirakan baru  dipasang oleh pelaku sekitar 1 (satu) atau 2 (dua) minggu yang lalu.

Ditambahkan Yuda, Keutuhan kawasan Hutan Guguk dan ekosistemnya membuat kosentrasi satwa cendrung berkumpul, hal ini dimanfaatkan oleh para-pemburu satwa. Pemburu mengincar satwa yang terdapat   di dalamnya.  Kawasan  hutan ini merupakan   habitat bagi  satwa-satwa yang sebelumnya  tersebar di sekitar hutan adat,   namun karena hutan disekitarnya   telah rusak dan terjadi perambahan satwa terkepung dan tidak memiliki koridor  untuk berpinda kekawasan hutan yang lebih luas seperti TNKS.

Jika   persoalan perburuan  satwa tidak cepat dihentikan,  dan perbaikan kawasan hutan / habitat tidak dilakukan maka kematian satwa seperti tapir ini akan terus terjadi, sehingga kepunahan satwa langka pun tak terelakkan, tutup  Yuda.

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>