Pages Navigation Menu

TAPIR KORBAN KONFLIK SATWA DIOBATI DAN DILEPAS LIARKAN.

TAPIR KORBAN KONFLIK SATWA DIOBATI DAN DILEPAS LIARKAN.

Solok Selatan, 15 Mei 2016.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan, Nomor : P. 48 /Menhut-II/2008 tentang pedoman penanggulangan konflik antara manusia dan satwa liar. Konflik Manusia dan Satwa  adalah segala interaksi antara manusia dan satwa liar yang mengakibatkan efek negatif bagi manusia maupun satwa liar. pada kondisi tertentu konflik tersebut dapat merugikan semua pihak yang berkonflik, konflik yang terjadi  cendrung menimbulkan dampak negatif.

Konflik terjadi karena adanya ganguan (pemburu, jerat) terhadap satwa, pembukaan kawasan hutan untuk berbagai keperluan (perkebunan, pertambangan, pemukiman, illegal logging) serta adanya ganguan terhadap satwa mangsa seperti rusa, kijang, tranggiling dan sebagainya.

Penanggulangan Konflik adalah upaya mengatasi / mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar dengan mengedepankan kepantingan dan keselamatan manusia tanpa mengorbankan kepentingan dan keselamatan manusia dan satwa liar.

Salfayandri, Tim dari ICS (konsorsium Akar network) mengatakan, pada bulan Mei 2016 ini mereka melakukan pengobatan dan pelepasan satwa liar korban konfik. Satu ekor Tapir (Tapirus indicus) betina umur  5 – 6 tahun dalam kondisi terluka di  Jorong Koto Japang, Nagari Padang Air Dingin, Kecamatan Sangir Jujuan. Kabupaten Solok Selatan Propinsi Sumatera Barat. Tapir tersebut ditemukan  dengan kondisi diikat tali, pingsan dan luka di bagian belakang, serta 2 (dua) lobang bekas tembak dengan senapan angin serta mata sebelah kiri luka kena benda tumpul.

Kronologi Kejadian dan Penanggulangan

Pada hari Sabtu tanggal 14 Mei 2016, sekitar pukul 11.00 Wib Tim ICS (Institution Conservation Society) dihubungi melalui telepon oleh masyarakat Nagari Padang Air Dingin memberikan informasi se-ekor Tapir (Tapirus indicus) betina dengan panjang 150 cm umur 5 – 6 tahun diburu oleh masyarakat Jorong Koto Japang Nagari Padang Air Dingin, kondisi diikat dengan tali kerbau, pingsan dan luka di bagian belakang. Terdapat  2 (dua) lobang bekas tembak dengan senapan angin serta mata sebelah kiri luka kena benda tumpul.

Berdasarkan informasi tersebut, dilakukan koordinasi  ke BKSDA Sumatera Barat, dan Drh. Syerlli Octarini, kemudian Tim Mitigasi Satwa Liar ICS turun ke Tempat Kejadian Peristiwa kelapangan (TKP).

Pada hari yang sama sekitar pukul 14.00 WIB, dengan batuan Drh. Syerlli Octarini Yulia Irnanda.SPt dilakukan pemerikasan satwa, memberi pengobatan perawatan (Anastesi, Premedikasi anastesi, antidota, multivitamin, anti inflamasi, antibiotika, antiekroparasit, suporting theraphy ringer laktat dan dextrose).

Setelah dilihat kondisi satwa mulai membaik, pada pukul 18.30 tanggal 14 Mei 2016  Tim merealese TAPIR (Tapirus indicus) ke Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di Jorong Pincuran Tujuh Nagari Lubuk Gadang Selatan Kecamatan Sangir.Setelah di lepas liarkan, pada hari berikutnya, 15 Mei 2016 dilakukan pemantauan memastikan bahwa satwa tersebut sudah masuk ke dalam kawasan hutan.

Ditegaskan Yandri, Tingginya tekanan terhadap kawasan hutan, baik illegal logging, illegal mining, ataupun pembukaan lahan hutan untuk pertanian dan perkebunan sawit. Kerusakan ini terjadi baik  di kawasan TNKS (Taman Nasional kerinci Seblat) maupun Hutan Lindung Batang Hari di Kabupaten Solok Selatan Propinsi Sumatera Barat. Kondisi inilah kemudian yang memicu terjadinya  konflik satwa liar dilindungi dengan manusia.

…………………………..

Tim Kampanye Media Akar network.

Jalan Muradi Lorong Sepakat.  RT. I. No. 23. Koto Renah.

Kota Sungai Penuh.  Kerinci.  Propinsi Jambi.

Telp/Fax : 0748 71158. Email : akarnetwork@gmail.com

Web: http://akarnetwork.or.id/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>