Pages Navigation Menu

Rencana Jalan Dalam Kawasan TNKS Akan Mengancam Kawasan Hutan dan Meningkatkan Potensi Bencana

Rencana Jalan Dalam Kawasan TNKS Akan Mengancam Kawasan Hutan dan Meningkatkan Potensi Bencana

Sungai Penuh, 30 Desember 2013.

Rencana pembangunan jalan baru yang akan membelah atau memotong kawasan TNKS telah lama di inisiasi oleh pemerintah daerah. Jalan-jalan yang direncanakan tersbut bahkan menjacai 29 jalur yang akan menghubungkan antar kecamatan dan kabupaten dalam propinsi, maupun antar propinsi.

Berberapa rencana pembangunan jalan yang sering  muncul di media maupun dalam Program pembangunan daerah antaralain; jalan Lempur ke Sungai Ipuh yang akan menghubungkan Kabupaten Kerinci dan Mukomuko, jalan Sebelat Ulu ke Jangkat yang akan menghubungkan Kabupaten Lebong dan Merangin.

Selain itu usulan dari pemerintah propinsi Jambi dan Suimatera Barat antaralain  jalan dari Renah Pemetik ke Bungo dan dari Masgo ke Dusun Tuo.

Rencana jalan penghubung Lebong dan Jangkat Kabupaten Merangin    tersebut   akan melewati kawasan inti TNKS  lebih kurang 35 kilometer,  untuk  menghubungkan Kecamatan Pinang Belapis Desa Sebelat Hulu-Desa Sungai Lisai (Propinsi Bengkulu Kabupaten Lebong) dengan Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin Propinsi Jambi. Rencana pembangunan jalan ini telah mulai diusulkan Pemerintah Kabupaten Lebong sejak tahun 2005.  Berdasarkan Dokumen teknis rencana tataruang kabupatel Lebong tahun 2011-2031. Isu-Isu Strategis di Kabupaten Lebong, antaralain pada bagian (e) Keterisoliran wilayah dengan kabupaten tetangga; untuk itu Pemerintah Kabupaten Lebong mempunyai rencana untuk membuka keterisoliran kabupaten dengan membuka jalur baru dan meningkatkan keterhubungan Kabupaten Lebong dengan Kabupaten – kabupaten tetangga, yaitu Kabupaten Merangin di Provinsi Jambi dan Kabupaten Musi Rawas di Provinsi Sumatera Selatan.

Dua jalan  yang direncanakan Kabupaten Lebong yang akan melewati kawasan hutan penyangga dan kawasan inti  TNKS yaitu ; lebih kurang 35 kilometer untuk jalur Rencana Jalan tembus Lebong Ke Merangin dan sekitar 10 kilometer untuk rencana jalan tembus Lebong ke Musi Rawas. Perencanaan jalan ini tertuang  dalam Peta Jaringan Jalan Kabupaten Lebong, Lampiran Dokumen RTRW Kabupaten Lebong 2011-2031.

Pada tahun 2013,  Pemda Lebong mengaggarkan dana Pembangunan/Peningkatan Jalan Ke Perbatasan Kabupaten Merangin (Rencana Jalan tembus Lebong Sebelat Ulu Ke Merangin), sebesar Rp 600.000.000 dan berdasarkan data yang dipublikasiakan dalam situs http://lpse.lebongkab.go.id, pemenang lelang kegiatan tersebut adalah PT. Giritama Persada dengan biaya sebesar  Rp. 595.870.000.

Selain di Kabupaten Lebong, dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kerinci nomor  24 tahun 2012 Tentang  Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kerinci tahun 2012-2032,  Pasal 24 antara lain dicantumkan   jalur  jalan evakuasi bencana gempa bumi dan tsunami berupa pengembangan ruas jalan Lempur Mudik Kabupaten  Kerinci ke Sungai Ipuh Kabupaten Mukomuko  Bengkulu.

Namun usulan-usulan jalan ini ditolak karena akan berpotensi meningkatkan kerusakan hutan dan meningkatkan potensi bencana banjir dan kekeringan. Dalam dokumen Berita Acara Konsultasi  publik revisi zonansi TNKS, di Padang  tanggal 21-22 November 2013 disebutkan : usulan dari pemerintah Propinsi Jambi dan Suimatera Barat bahwa pembangunan jalan dari Renah Pemetik ke Bungo, Masgo ke Dusun Tuo, Lempur ke Sungai  Ipuh dan Kambang ke Muara Labuh yang melewati zona inti Taman Nasional Kerinci Seblat belum dapat dikoordinir karena tidak sesuai dengan Undang-undang Nomor  05 tahun 1990 dan peraturan menteri kehutanan P.56 tahun 2006. Dan dalam Berita Acara Konsultasi  publik revisi zonansi TNKS, yang dilakukan di Bengkulu juga tidak mengakomodir usulan Pemerintah kabupaten dan propinsi terkait pembangunan jalan yang akan membelah kawasan Inti TNKS.

tnks

Berdasarkan kajian Akar Network, jalur-jalur jalan yang direncanakan oleh pemerintah kabupaten dan propinsi ini akan melewati kawasan TNKS dan secara langsung akan meningkatkan akses kedalam kawasan hutan. Disamping itu, karena tofograpi kawasan hutan di wilayah ini terjal dan berbukit, serta merupakan daerah tangkapan air bagi sungai-sungai besar di empat propinsi, Jambi, Bengkulu, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan, maka kerusakan hutan TNKS akan meningkatkan potensi bencana alam dan meningkatkan kerentanan ekonomi masyarakat disekitarnya.

Sebagaimana diketahui, Kawasan Konservasi ini sangat penting  karena memiliki kelengkapan ekosistem dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Menjadi daerah tangkapan air (catchment area ) dan pengendali perubahan iklim (Control Climate Change). Taman Nasional Kerinci Seblat menjadi penyangga dari ancaman bencana dan menjadi hulu  puluhan sungai besar dan ratusan sungai kecil yang sangat bermanfaat bagi masyarakat.

Kawasan ini merupakan hulu penting bagi DAS (daerah aliran sungai) Batang Hari (sub-DAS Merangin, Tebo, Tabir, Sangir), DAS Musi (sub-DAS Rawas, Rupit, dan Lakitan), dan DAS Pantai Barat Suamtera (sub-DAS Manjunto, Ketahun, Ipuh, Sebelat, Dikit dan Indrapura).

TNKS memberikan kontribusi Hydrologis dan ekologis, bagi  sekitar 10 juta  hektar lahan pertanian. Lahan tersebut sangat tergantung dengan kelestarian kawasan ini untuk meningkatkan dan mempertahankan produksinya. Menjadi sumber air bersih bagi 5 juta-an penduduk di empat propinsi. Menjadi sumber energi untuk pembangkit PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) ; 670 watt di Propinsi Jambi, 388 ribu watt di Sumatera Barat, 16 juta Watt di Bengkulu, dan  210 juta watt di Sumatera Selatan.

…………………………………

Oleh : Supin Yohar (Konsersium Akar Network).

@ Desember 2013

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>