Pages Navigation Menu

Penanggulangan Konflik Satwa Beruang di Solok Selatan

Penanggulangan Konflik Satwa Beruang di Solok Selatan

Solok Selatan. Konflik Manusia dan Satwa Liar adalah segala interaksi antara manusia dan satwa liar yang mengakibatkan efek negatif bagi manusia maupun satwa liar,  pada kondisi tertentu konflik tersebut dapat merugikan semua pihak yang berkonflik, konflik yang terjadi  cendrung menimbulkan sikap negatif.

Konflik terjadi karena adanya ganguan   terhadap satwa, pembukaan kawasan hutan untuk berbagai keperluan   serta adanya ganguan terhadap satwa mangsa seperti rusa, kijang, tranggiling dan sebagainya. Konflik manusia dan satwa liar merupakan permasalahan kompleks karena bukan hanya berhubungan dengan keselamatan manusia tetapi juga satwa itu sendiri.

Kegiatan Penanggulangan Konflik memiliki tujuan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat di sekitar lokasi tempat kejadian Peristiwa  serta satwa liar dilindungi   kembali masuk ke hutan dan  jauh dari masyarakat pun lahan usahanya.

Kegiatan Mitigasi Konflik, dalam bentuk   satwa liar dilindungi sesuai dengan Permenhut 48 tahun 2008 berupa upaya segerah dan   tepat, cepat, efektif dan efisien dalam menghindari kerugian dapak konflik.

Salfa Yandri Ketua ICS (Institution Concervation Society) menjelaskan, Kronologis penanganan konfik satwa liar  Beruang yang terjadi di Kecamatan Sangir Batang Hari Kabupaten Solok Selatan Propinsi Sumatera Barat, diawali dengan Tim ICS berkoordinasi ke BKSDA Sumatera Barat pada hari  tanggal 01 November 2013, tim ICS mendapatkan informasi telah  terjadi   Konflik Beruang di daerah Abai  Kecamatan Sangir Batang Hari kabupaten Solok Selatan propinsi Sumatera Barat.

Berdasarkan informasi tersebut kemudian Tim dari ICS dan BKSDA melakukan surve dan Penanggulangan Konflik satwa ditempat kejadian.

Dari data lapangan tersebut kemudian diketahui konflik terjadi di lahan perkebunan kelapa sawit milik PT. BPSJAL (Bina Pratama Sakato Jaya Lestari). Namun setelah dipantau dan disurve secara detil dilokasi kejadian, ternyata beruang telah menjauh dan kembali masuk dalam hutan.

Yandri menambahkan, satwa liar ini turun ke lahan perkebunan diduga karena telah terjadi kerusakan di habitatnya. Satwa mencari makanan sampai ke luar hutan ketika ketersediaan makanan dihabitannya semakin berkurang. Untuk itu diharapkan masyarakat jangan melakukan pembukaan lahan dikawasan hutan yang menjadi habitat satwa liar, katanya belum lama ini.

Sumber : http://napaktilasnews.com/penanggulangan-konflik-satwa-beruang-di-solok-selatan/

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>