Pages Navigation Menu

NGO Lingkungan Protes Pembangunan Jalan TNKS

NGO Lingkungan Protes Pembangunan Jalan TNKS

BENGKULU. 

Beberapa Non Government Organisation (NGO) lingkungan di Bengkulu, memprotes pembangunan jalan di Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) sebagai sebuah modus penghancuran kawasan. Hal ini disampaikan Genesis Bengkulu, WALHI Bengkulu, WALHI Jambi, WALHI Sumatera Selatan, Lingkar Institut, AKAR Network, dan Lembaga Tiga Beradik.

 Koordinator Yayasan Ganesis Bengkulu Barlian mengatakan, berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 901/Kpts-II/1999 tanggal 14 Oktober 1999, Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) memiliki luas 1.389.509,87 hektar. Tersebar di 4 provinsi di Pulau Sumatera dengan pembagian provinsi SumateraBarat 353.780Ha (25,86%), Jambi 422.190Ha  (30,86%), Bengkulu 310.910Ha (22,73%), dan Sumatera Selatan 281.120Ha (20,55%).

 “TNKS sebagai penyangga kehidupan memiliki fungsi utama sebagai pengatur siklus hidrologi dan ekologis,” jelas Barlian.

 Sebagai sumber irigasi 10 juta ha lahan pertanian rakyat, sebagai sumber air bersih 5 juta rakyat di 4 provinsi, dan sebagai sumber pembangkit PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air); 670 watt di Propinsi Jambi, 388 ribu watt di Sumatera Barat, 16 juta Watt di Bengkulu, dan 210 juta watt di Sumatera Selatan.

 Selain itu TNKS juga memiliki 4.000 jenis tumbuhan yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae dan tumbuhan langka lainnya. Taman Nasional Kerinci Seblat memiliki 37 jenis mamalia, 10 jenis reptilia, 6 jenis amfibia, 8 jenis primata dan 139 jenis burung. Termasuk satwa langka harimau sumatera, gajah sumatera dan burung rangkong. (data Balai Besar TN:2006).

 “Berdasarkan kekayaan ini, TNKS diberikan status sebagai warisan dunia oleh UNESCO,” tambahnya.

 Terkait rencana pembangunan jalan sebagai jalur evakuasi yang didengung-dengungkan oleh kepala daerah menjadi tol penghancuran TNKS. Setidaknya hingga saat ini terdapat 29 rencana pembangunan jalan di dalam TNKS. Rencana pembangunan jalan melintasi TNKS juga telah masuk ke Rencana Tataruang Wilayah (RTRW) di beberapa wilayah, seperti RTRW Kabupaten Lebong, RTRW Kabupaten Kerinci, RTRW Provinsi Bengkulu, dan RTRW Provinsi Jambi.

 “Kita juga mau mengkaji apakah benar pembangunan jalan ini untuk kemaslahatan rakyat atau malah kepentingan kelompok saja. Mengingat semakin gencarnya izin-izin pertambangan di perbatasan kawasan TNKS”  kata Barlian.

 Rencana teranyar adalah pembangunan jalan evakuasi di Kecamatan Gunung Tujuh sepanjang 15 kilometer dan Kecamatan Kayu Aro sepanjang 30 kilometer. Biaya pembebasan lahan sudah dianggarkan di APBD senilaiRp 50 Miliar. Rencana pembangunan ini merupakan hasil pertemuan antara Zumi Zola dengan Menteri Siti Nurbaya pada pertengahan April yang lalu.

 “Pembangunan jalan ini menjadi bagian dari merubah bentang alam Kerinci Seblat yang akan berdampak pada terganggunya siklus hidrologi. Fungsinya sebagai penyangga kehidupan akan hilang dan risiko bencana juga akan semakin besar malah, banjir dan longsor akan terjadi dimana-mana.” tambah Rudi, Koordinator program WALHI Jambi.

 Rencana pembangunna jalan yang membelah kawasan TNKS ini sudah dimulai sejak tahun 2006 yang lalu. Gerakan penolakan juga telah banyak dilakukan oleh masyarakat sipil. Hasilnya ada beberapa penolakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan, seperti : Masgo/ Kerinci –Dusuntuo/Merangin, Lempur/Kerinci –SungaiIpuh /Mukomuko, dan Lebong–Merangin.

 “Kita bukan rangka menolak rencana pemerintah untuk menjaga masyarakat dari keterancaman ledakan gunung Kerinci, tetapi kami memandang pembangunan jalan lintas yang membelah TNKS sebagai fungsi jalur evakuasi tidak lah tepat. Karena jalurnya terjal, kemirngannya mencapai 45 derajat, maka akan berpotensi besar untuk longsor. Maksimalkan saja jalan evakuasi yang sudah ada Kayu Aro menuju Padang Aro, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat adalah langkah yang bijak” tutup Supintri Yohar, Koordinator AKAR Network.

 Diketahui ada beberapa titik di Kecamatan Kayu Aro dan Kecamatan Gunung Kerinci juga sudah aman untuk dijadikan titik berkumpul, karena radiusnya sudah 10 km dari Gunung Kerinci.

 Sebagaimana diketahui pada tahun 2015 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menolak beberapa jalur jalan baru melintas TNKS melalui surat, No. S.269/IV-KKBHL/2015,  tanggal 10 Juni 2016. Permohonan yang ditolak antaralain jalan Ruas Desa Masgo (Sei Hangat) kabupaten Kerinci ke Ipuh Propini Bengkulu, Ruas jalan Lempur propinsi Jambi ke Merangin dan Lebong (Bengkulu) ke Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan. (sly)

sumber :

http://harianrakyatbengkulu.com/ver3/2016/05/12/ngo-lingkungan-protes-pembangunan-jalan-tnks/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>