Pages Navigation Menu

Meriam Karbit untuk Atasi Konflik Manusia-Satwa Liar ICS GELAR PELATIHAN MITIGASI

Meriam Karbit untuk Atasi Konflik Manusia-Satwa Liar  ICS GELAR PELATIHAN MITIGASI

SOLSEL— LSM Institutions Conservations Society mengadakan pelatihan mitigasi penanggulangan konflik manusia dengan satwa liar yang dilindungi, Jumat (13/9) di kantor ICS Sungai Padi.

Hadir tim patroli dari ICS sebanyak 5 orang dan unsur masyarakat sebanyak 10 orang. Peserta bersemangat mengikuti presentasi nara­sumber yang didatangkan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Sumatera Barat Rusdiyan P Ritonga dan Syafril Suharto.

“Konflik manusia dengan satwa liar, terutama satwa yang dilindungi seperti hari­mau dan beruang harus dice­gah dengan seefektifnya agar efek negative bagi manusia dan satwa tidak ada,” jelas Rusdiyan P Ritonga.

Menurutnya, jika terjadi konflik antara manusia de­ngan satwa liar, maka tinda­kan yang harus dilakukan adalah mengedepankan kepen­tingan dan keselamatan manusia tanpa mengorbankan kepentingan dan keselamatan satwa liar.

Rusdiyan menyebutkan, ada beberapa faktor terja­dinya konflik tersebut. Perta­ma, terjadinya konflik karena mereka diburu dan dijerat. Atau, terjadinya perambahan dan illegal logging sehingga lingkungan bermainnya ter­desak oleh manusia. “Satwa liar dilindungi. Jika kedapatan menganggu atau memburu atau menangkapnya maka akan dikenakan pidana kuru­ngan dan denda sesuai dengan UU nomor 05 tahun 1990 tentang Konservasi SDA Ha­yati beserta Ekosistemnya,” terangnya.

Katanya, jika terjadi kon­flik manusia dengan satwa liar maka akan berdampak pada ekologi satwa, ekonomi dan sosial manusia. Artinya, kedua belah pihak akan ter­ganggu dan dirugikan. “Kami dari BKSDA berterima kasih karena ICS sangat tinggi partisipasinya dalam menjaga dan memelihara satwa liar dan lingkungan kawasan hutan. Hal itu ditandai dengan adanya mitigasi ini. Renca­nanya, Sabtu besok (hari ini-red) akan dilakukan pelatihan menggunakan meriam karbit sebagai salah satu langkah untuk menyelesaikan konflik satwa liar dengan manusia,” terangnya.

Direktur ICS Solok Selatan Salpayanri menyebutkan, pentingnya pengetahuan dan keterampilan tim patrol ICS mempelajari cara penyelesaian konflik satwa liar dengan manusia untuk mencegah tindakan pemusnahan oleh masyarakat. “Cara mengatasi konflik ini penting sekali, karena jangan sampai manu­sia (masyarakat) di Solsel ini main bunuh dan jerat saja ketika ada satwa liar yang dilindungi itu menganggu lingkungan manusia,” ujarnya.

Pengetahuan tentang miti­gasi penanggulangan konflik manusia dengan satwa liar di ruangan, sangat penting dibe­rikan kepada tim patroli. Kare­na, sebelum masuk prak­tik maka perlu pembekalan ilmu. “Nanti kami akan mela­ku­kan simulasi penanganan konflik di lapangan. Sekarang perlu dibe­rikan penyuluhan dan keteram­pilan dulu,” pung­kasnya.

Menurutnya, banyak kasus ditemukan ICS jerat dan ranjau harimau yang dipasang oleh oknum masyarakat. Atau, banyaknya perambahan hutan di Solsel. Maka, jika hal itu dibiarkan maka tidak menutup kemungkinan ter­jadinya konflik tersebut. “BKSDA sangat jauh dari Solsel, kita harus punya keterampilan menyelesaikan konflik manusia dengan satwa liar. Setidaknya, pengetahuan dan keterampilan itu sebagai langkah awal dalam pena­nganan konflik tersebut,” terangnya. (h/col).

Sumber : Harianhaluan.  (Senin, 16 September 2013 00:45)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>