Pages Navigation Menu

Menghalau penebang liar dari TNKS wilayah Mukomuko

Menghalau penebang liar dari TNKS wilayah Mukomuko

Kondisi perambahan kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Airmanjunto di Kabupaten Mukomuko. Tidak ada tindakan dari aparat hukum atas perambahan hutan dan menjadi tanaman sawit itu. (Foto istimewa/Genesis)

Bengkulu (Antara) – Mendung berkabut mengiringi langkah tim patroli pengamanan hutan dari Desa Sungaiipuh Kabupaten Mukomuko, Bengkulu ke hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang berbatasan dengan desa mereka.

Setelah berjalan selama empat jam ke dalam kawasan, tim yang beranggotakan lima orang kembali menemukan kayu tumbang, bekas penebangan liar. “Area ini masih dalam hutan produksi terbatas Airmajunto,” kata Barlian, ketua tim setelah mengambil titik koordinat dengan GPS. Setelah mengambil titik koordinat dan dokumen foto, anggota tim memeriksa jenis kayu yang ditebang. Kali ini puluhan batang jenis kayu meranti merah (shorea sp) dan pulai darat (alstonia sp) yang dicuri.

Tim kembali bergerak ke dalam kawasan hutan dan mengarah ke pinggir Sungai Airmajunto. Patroli yang digelar pekan kedua Desember 2013 itu tidak menemukan perambah di dalam hutan. Dugaan anggota tim ternyata benar, kayu-kayu yang ditebang menjadi balok besar sudah berada di pingggir sungai dan siap dihanyutkan ke hilir.

“Biasanya akan diambil setelah tiba di sekitar bendungan irigasi Airmanjunto,” katanya. Penebangan liar di dalam HPT Airmanjunto yang merupakan “buffer zone” atau zona penyangga TNKS seringkali ditemukan anggota tim. Barlian mengatakan penebangan kayu-kayu besar, biasanya dilanjutkan dengan pembersihan pohon yang lebih kecil hingga akhirnya kawasan itu dibuka untuk kebun sawit. Patroli pengamanan hutan oleh masyarakat rutin digelar setiap bulan, dikoordinir Yayasan Genesis yang masuk dalam konsorsium Aliansi Konservasi Alam Raya (AKAR) Network. Sebanyak 10 orang masyarakat Desa Sungaiipuh masuk sebagai anggota patroli yang dibagi menjadi dua tim.

“Kami melibatkan masyarakat dalam patroli yang didukung hibah dari dana penyelamatan hutan Sumatra atau `Tropical Forest Conservation Action for Sumatera` (TFCA-Sumatera),” kata Direktur Yayasan Genesis itu. Program tersebut yakni pengalihan hutang Indonesia kepada Amerika dengan melestarikan kawasan konservasi, termasuk TNKS yang meliputi empat provinsi yakni Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan dan Sumatra Barat.

Tujuan umum program itu untuk memelihara bentang alam dan keragaman hayati di kawasan konservasi TNKS melalui pemberdayaan masyarakat setempat untuk memulihkan fungsi koridor dan pengendalian pemanfaatan sumber daya hayati. “Program ini untuk memelihara kawasan konservasi serta meningkatkan ekonomi masyarakat lokal,” katanya.

Dana hibah tersebut juga digunakan untuk mitigasi konflik satwa langka terancam punah yakni harimau Sumatra atau Phantera tigris Sumatrae. Setiap patroli, tim juga mengikutkan anggota polisi hutan baik dari Dinas Kehutanan Mukomuko maupun polisi hutan dari TNKS. Patroli pengamanan hutan sebagian besar dilakukan di wilayah zona penyangga berstatus Hutan Produksi Terbatas (HPT). Barlian mengatakan sejak Juni 2012, tim sudah mengamankan sekitar 100 ribu hektare hutan penyangga TNKS. “Hasil patroli kami hampir dua tahun ini, ancaman terparah memang di wilayah penyangga, walau kami juga menemukan perambahan di TNKS tapi sudah ditinggalkan,” katanya.

Namun, meski belum meluas ke TNKS, kerusakan zona penyangga berstatus HPT tersebut wajib diantisipasi, sebab jika hutan produksi terbatas sudah habis, maka TNKS menjadi sasaran berikut. Data Genesis menyebutkan lebih dari 50 persen kawasan hutan penyangga TNKS sudah dirambah secara liar dan sebagian besar dijadikan perkebunan sawit dan karet. Kawasan penyangga yang tingkat perambahannya tergolong parah adalah Hutan Produksi (HP) Air Dikit register 40 di Kecamatan Penarik dan HPT Airmanjunto di Kecamatan Lubukpinang. Dari 2.730 hektare luas kawasan HP Air Dikit, lebih dari 50 persen dalam kondisi terbuka. “Titik koordinat yang kami ambil masih di dalam kawasan hutan produksi, tapi sudah dekat sekali dengan TNKS karena yang membatasi hanya sungai Air Dikit,” katanya.

Hasil identifikasi Genesis, sebagian besar perambah hutan adalah para pendatang dari luar daerah seperti Provinsi Lampung dan dari Pulau Jawa. Sebagian kecil, kata dia, merupakan tenaga upahan yang dibayar oleh pemilik modal untuk membuka lahan dengan upah Rp1 juta per hektare. “Tidak sedikit yang diupah oleh pemilik modal di Kabupaten Mukomuko, mereka dibayar Rp1 juta untuk lahan satu hektare yang masih dalam bentuk hutan,” katanya.

Azwir, mantan Kepala Desa Sungaiipuh yang masuk dalam tim mengatakan pelibatan masyarakat dalam pengamanan hutan sangat penting untuk menekan laju kerusakan hutan. Untuk wilayah Mukomuko menurutnya, perambah hutan sebagian besar merupakan pendatang dari luar daerah. “Kalau di desa kami sudah ada batas-batas lahan yang bisa dikelola masyarakat, apalagi sumber air untuk irigasi persawahan hulunya di TNKS,” katanya. Meski sudah paham tentang fungsi hutan dalam keberlanjutan sumber daya air, namun meluasnya perkebunan sawit yang sebagian besar diusahakan warga dari luar daerah membuat penduduk setempat tergoda membuka hutan. Namun, dengan kesadaran pelestarian dan ancaman bencana jika kawasan hutan dirusak, masyarakat yang berbatasa dengan kawasan hutan perlu terus diingatkan.

 

 Penegakan hukum

Patroli pengamanan hutan yang digelar tim Genesis sejak Juni 2012 yang mengikutsertakan anggota polisi hutan menghasilkan dampak positif. Kepolisian Resor Mukomuko bersama polisi hutan dalam Operasi Wanalaga Nala 2013 menangkap lima orang pelaku pembalakan hutan di kawasan HPT Air Manjunto Register 62, Desa Lalang Luas, Kecamatan V Koto pada Oktober 2013. Kelima pelaku pembalakan liar tersebut berinisial AI (19), Re (20), Ka (25), Rf (47), dan RC (30), kelima pelaku tertangkap tangan jajaran Polres Mukomuko pada saat tengah melakukan penebangan hutan.

Bersama pelaku, polisi juga mengamankan empat kubik kayu berbagai jenis yang dilindungi undang-undang. “Penangkapan pelaku pembalakan hutan ini dari operasi Wanalaga Nala 2013,” kata Kapolres Mukomuko, AKBP Wisnu Widarto, S.Ik. Ia mengakui berkat kerjasama dengan masyarakat dan politi hutan, para pembalak hutan itu tertangkap. Kelima tersangka ditangkap saat menggesek kayu menggunakan gergaji mesin dan semua peralatan yang digunakan telah diamankan menjadi barang bukti. Para pelaku tersebut masih menjalani pemeriksaan karena polisi menduga kelima pelaku merupakan pelaku pembalakan hutan yang terorganisasi rapi. Mereka dijerat dengan Undang-Undang nomor 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan pengerusakan hutan dengan ancaman lima tahun kurungan penjara. Wisnu melanjutkan, pelaku pembalakan di Kabupaten Mukomuko terbilang cukup tinggi sehingga merusak beberapa kawasan lindung dan mengancam kelestarian lingkungan.

 

Jumat, 17 Januari 2014. Antara Bengkulu

Sumber : http://antarabengkulu.com/berita/21540/menghalau-penebang-liar-dari-tnks-wilayah-mukomuko

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>