Pages Navigation Menu

Identifikasi Pengaruh Pertambangan Emas Rakyat Di Solok Selatan

Identifikasi Pengaruh Pertambangan Emas Rakyat Di Solok Selatan

___________________________________

Oleh: Ali Akbar (AKAR Network, Mei 2017)

  1. Pendahuluan,

Usaha mendulang emas, merupakan usaha yang sudah dikenal warga solok selatan sejak periode colonial, bahkan beberapa informasi berdasarkan cerita rakyat bahwa wilayah ini sudah menjadi lumbung emas dan menjadi penopang ekonomi warga.

Praktik penambangan ini juga tumbuh dan berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi. Di awali hanya menggunakan peralatan sederhana seperti alat “dulang” sampai menggunakan alat berat seperti hexavator.

Perkembangan penggunaan alat ini berimplikasi kepada jumlah emas yang dapat diperoleh. Pada awalnya warga penambang mendapatkan emas yang dipergunakan untuk kepentingan tertentu, seperti membangun rumah, biaya anak sekolah serta mencari modal untuk usaha pertanian dan perkebunan yang mereka lakukan.

Kegiatan ini dilakukan secara periodic dengan waktu “tentative” para pendulang mencari emas setelah selesai musim tanam padi. Sambal menunggu panen, para lelaki berangkat mendulang dengan waktu rata-rata mencari sepuluh hari.

Namun sejak periode penggunaan teknologi seperti mesin penyemprot dan penggunaan alat berat, usaha pendulangan mengalami perubahan pola, usaha ini dilakukan secara rutin dengan metode mengikuti arah perjalanan alat berat yang digunakan. Pendulang tradisional, pencari emas dengan menggunakan mesin semprot sampai dengan pengguna alat berat berada pada satu lokasi dan secara simultan mencari emas dengan metode masing-masing.

Hexcavator bekerja untuk membuka area penambangan, kemudian melakukan pengambilan emas pertama dengan menggunakan sistim perangkap emas dengan menggunakan “karpet”, setelah itu sisa emas yang tidak terperangkap melalui mekanisme pertama, disemprot dengan mesin air. Proses pemisahan emas ini mekanisme hampir sama dengan yang dilakukan alat berat. Karpet dipasang di dihilir tempat penyemprotan, aliran lumpur, pasir dan matrial lainnya hanyut sementara logam baik emas maupun logam lainnya dan pasir besi mengendap di dalam karpet,

Baik dengan menggunakan alat berat, maupun mesin penyemprot, setelah proses menangkap emas dengan karpet, selanjutnya mereka melakukan pembersihan untuk mendapatkan emas dengan menggunakan alat dulang sederhana.

Sementara para pencari emas yang hanya mengandalkan alat dulang sederhana yang berbentuk seperti “piring”, mengikuti semua proses. Ketika para pengguna alat baik hexavator maupun mesin penyemprot, pendulang tradisional berada disekitar mereka, “anak garai” (istilah untuk pendulang tradisional) mengambil matrial dari sisa-sisa alat yang kemudian di dulang untuk mendapatkan emas.

Pada awalnya usaha ini dilakukan pada wilayah sungai batang hari dan anak sungai batang hari, dimana tempat usaha pendulangan emas tradisional dilakukan, mesin penyemprot pada awalnya bertugas sebagai mesin penghisap matrial dari dalam sungai, diperkirakan pertama kali usaha ini dilakukan pada tahun 2003. Matrial hasil penghisapan dari dasar sungai dalam selanjut di “garai”dengan menggunakan alat dulang. Selanjutnya pada tahun 2006, alat berat pertama kali digunakan untuk mengambil matrial dari dalam sungai. Hal ini dilakukan karena alat hisap sudah tidak mampu lagi bekerja pada wilayah sungai batang hari yang dalam. Pada saat yang bersamaan, alat berat juga melakukan pengerukan pada wilayah sempadan sungai. Hasil kerukan ini selanjutnya di cuci sebelum di “garai”

Ketika emas di sungai dan disempadan sungai sudah tidak memenuhi target operasi, alat berat mulai melakukan pencarian emas di wilayah hulu sungai dan hutan. Hutan lindung Batanghari yang memiliki potensi emas di “kupas”. Dibuat kolam-kolam pencucian lalu dikeruk untuk diambil emasnya. Tercatat sekarang ini diwilayah timbahan yang berada dalam hutan lindung Batanghari tidak kurang dari 100 hektar hutan sudah dikupas dan keruk emasnya.

Kegiatan mencari emas, adalah kegiatan tanpa dokumen. Semua pekerjaan dilakukan berdasarkan inisiatif dan insting para pencari emas. Pencari emas melakukan pencarian wilayah yang diperkirakan mengandung deposit emas. Selanjutnya mereka mencari pemodal untuk membiayai usaha yang mereka lakukan, pemodal biasanya menyediakan alat berat dan sarana pendukung lainnya seperti bahan bakar dan logistik pekerja. Ada juga para pencari emas yang menggunakan alat berat dengan sistim sewa.

Ketika emas ditemukan oleh dengan menggunakan alat berat dengan jumlah yang cukup signifikan, para pencari emas lainnya secara masal  akan akan datang ke lokasi tersebut. Tidak ada istilah penguasaan atas satu wilayah, bersama-sama mereka melakukan ekploitasi besar-besaran untuk mendapatkan emas sebanyak mungkin.

Alat berat bekerja 20 jam sehari, mesin penyemprot bekerja 10 jam sehari, sementara anak garai mengais semampu tenaga yang mereka miliki. Anak garai secara bergantian mendulang emas selama 24 jam.

 

Analisis Pengaruh

2.1  Bentang Lahan Batanghari

Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan tidak ada dokumen yang menjadi dasar dalam proses pencarian emas, tidak ada pula tindakan negara untuk mencoba membangun mekanisme yang lebih baik dari usaha yang sudah dilakukan secara turun temurun ini. Semua bekerja tanpa memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Bahkan sering kali terlihat para penambang dari berbagai level bekerja dengan tingkat risiko keselamatan yang rendah.

Diwilayah “Timbahan” dalam kurun waktu 3 bulan terakhir, tercatat sudah ada 2 orang anak garai yang tewas yang tertimbun reruntuhan dan tertimpa alat penyaring (asbuk). Tidak ada tindakan apapun yang dilakukan atas tewasnya anak garai ini, semua seperti sudah menjadi risiko yang harus di terima.

Wilayah yang sudah dikupas dan diekploitasi emasnya, ditinggalkan begitu saja oleh para penambang, wilayah ini menjadi daerah yang gersang dengan matrial tersisa pasir dan batuan. Wilayah bekas galian hampir dapat dipastikan tidak dapat lagi digunakan untuk usaha lainnya.

Berdasarkan diskusi dengan warga desa Tanjung Durian, tidak ada tindakan dalam rangka melakukan penataan dari aktivitas penambangan yang terjadi. Semua bergerak sesuai dengan kemampuan masing-masing. Wilayah penambangan timbahan dapat menjadi potret bagaimana proses ekploitasi besar-besaran.

Ekploitasi besar-besaran yang digunakan dengan menggunakan alat berat terbukti telah membuat wilayah bukit daun luluh lantak, yang tertinggal sekarang hanyalah kubangan lumpur dalam. Dilihat dari kondisi wilayah pertambangan di Timbahan, dari jalur galian yang tersedia, minimal masih ada satu bukit lagi yang dapat ditambang untuk diambil emasnya. Jika hal ini terjadi, maka paling tidak 200 ha wilayah dipuncak bukit HL Batanghari akan rata dengan menyisakan kubangan lumpur.

2.2  Sosial Ekonomi

Emas dalam pandangan rakyat adalah “tabungan” Pak Ideb, menyatakan bahwa ketika dia ingin membangun rumah, maka dia berangkat ke lokasi dulang selama hampir satu bulan. Pulang dari mencari emas, Pak Ideb, membangun rumah. Hal ini dilakukannya pada awal tahun 80-an.

Begitu juga dengan warga yang lain, mencari emas adalah sesuatu hal yang dilaksanakan guna memenuhi kebutuhan mendesak. Aktivitas utama sebagai penghasil “beras” tetap menjadi andalan daerah ini. Walaupun ada juga beberapa warga yang mengandalkan sumber daya emas sebagai mata pencaharian utama. Pasca masuknya alat pendukung operasi,warga desa mengalami peningkatan ekonomi yang masuk dalam kategori luar biasa. Hasil penambangan dengan menggunakan alat seperti mesin hisap dan hexavator luar biasa, diperkirakan setiap minggunya setiap pengguna alat berat mendapatkan emas tidak kurang dari 1 kg setiap minggunya. Sementara anak garai bisa mendapatkan emas lebih dari 10 – 50 gram setiap kali berangkat ke lokasi penambangan.

Namun pada kenyataannya, jika dilihat dari kondisi sosial dan ekonomi, hampir tidak ada pengaruh besarnya emas yang peroleh dengan peningkatan kesejahteraan rakyat. Masih ada anak-anak yang putus sekolah, bahkan anak-anak tidak mau sekolah lagi karena sudah mencicipi “manisnya” uang emas.

Ketidakmaun anak-anak sekolah ini mulai dirasakan sekarang ini, emas yang di dulang terutama untuk anak garai jumlahnya semakin sedikit, hanya pihak pemodal saja yang masih mendapatkan emas dalam jumlah besar, Hal ini dikarenakan wilayah pencarian emas sudah sampai ke lokasi hutan.

Diperkirakan dalam kurun waktu sepuluh tahun kedepan, emas di wilayah solok selatan dengna mekanisme penambangan seperti ini akan habis terkuras. Anak-anak yang sekarang ini masih mencari emas akan diduga akan kehilangan mata pencaharian. Kebiasaan mendapatkan uang dengan cukup mudah dipastikan akan mempengaruhi prilaku para anak garai dimasa depan.

 

Peran Negara

Berdasarkan diskusi dan temuan dilapangan, pemerintah kabupaten Solok Selatan cenderung melakukan pembiaran atas tindakan pencarian emas yang mengancam keselamatan lingkungan dan mata pencaharian rakyat dimasa depan. Hal ini terbukti dengan banyaknya alat berat yang bekerja pada satu wilayah dan secara massive menghancurkan wilayah yang mengandung deposit emas. Di TImbahan, tidak kurang dari 32 hexcavator bekerja 20 jam sehari, dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan lebih dari seratus hektar wilayah hutan lindung batang hari sudah habis terbongkar,

Selain itu juga ditemukan beberapa aktivitas lainnya seperti penebangan liar dan konversi wilayah yang dijadikan tempat mukim sementara guna memenuhi kebutuhan para penambang.

Berdasarkan informasi yang diperoleh para penambang bisa aman dalam melaksanakan operasi dikarenakan adanya oknum tertentu yang melindungi, setiap operasi yang dilaksanakan jarang sekali berhasil menyita alat berat. Operasi yang dilaksanakan selalu  “bocor” dan para pemodal segera menyimpan alat beratnya dengan membuat lubang.

Di timbahan, sudah hampir 7 bulan proses pencarian emas dilakukan dan belum ada tindakan negara untuk memperbaiki pola penambangan yang dilakukan. Semua aktivitas berjalan seperti biasa. “Negeri tak bertuan” adalah ungkapan yang tepat

untuk menggambarkan kondisi timbahan saat ini. Sementara puluhan wilayah lain yang sudah hancur juga dibiarkan tanpa ada upaya pemulihan sama sekali.

Pembiaran ini, patut dicurigai bahwa adanya konspirasi antara pemilik modal dengan pemangku negara. Bersama-sama kedua pemangku ini mengeruk hasil bumi berupa emas tanpa memperhatikan kaidah-kaidah keselamatan lingkungan. Selain itu, dari konspirasi pengerukan emas ini kedepan akan menyebabkan rakyat solok selatan kehilangan “tabungan” mereka. Dapat disimpulkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini adalah tindakan pengurasan tabungan rakyat solok selatan.

Kedepan ketika emas sudah habis terkuras, wilayah sudah hancur dan membutuhkan waktu yang lama untuk pulih, daya dukung lingkungan yang rendah, maka dapat di pastikan solok selatan akan mengalami degradasi kualitas penghidupan rakyat,

 

Rekomendasi 

Satu dekade sudah ekploitasi tanpa batas dalam mencari  emas di solok selatan, beberapa kelompok mengalami peningkatan kekaayan luar biasa, Namun sebagian besar tidak ada perubahan kualitas hidupnya. Atas dasar kenyataan ini, maka dipandang perlu untuk menyerukan kepada:

  1. Gubernur Sumatera Barat: untuk segera membangun pola penambangan emas yang lebih baik dengan menghentikan penggunaan alat berat seperti hexcavator dan alat berat lainnya, meminta pertanggungjawaban dari pemilik alat berat untuk segera mengembalikan kondisi lingkungan akibat penambangan emas yang terbukti telah menghancurkan lingkungan
  2. Dewan perwakilan rakyat propinsi Sumatera Barat: untuk segera membangun pola ruang bagi para penambang tradisional berdasarkan informasi yang berasal dari warga, mempertahankan “tabungan” tersisa senharusnya menjadi program strategis bagi legislative guna memastikan keberlanjutan keselamatan rakyat
  3. Menteri energy dan sumber daya mineral dan menteri lingkungan hidup dan kehutanan: aktivitas penambangan yang terjadi adalah bentuk kegagalan dari kerja-kerja yang dilaksanakan oleh dua kementerian ini. Model penambangan yang sembarangan, serta hancurnya hutan lindung batahari adalah fakta bahwa kedua kementerian belum bekerja di selurh wilayah Indonesia. Untuk itu informasi yang kami sampaikan ini hendaknya menjadi perhatian agar tidak terjadi pengrusakan yang lebih massive di wilayah solok selatan.

 

Penutup:

Hasil studi ini adalah upaya AKAR Network untuk menghentikan tindakan kejahatan lingkungan yang bermuara kepada hancur sumber penghidupan rakyat. Sebagai organisasi masyarakat sipil, AKAR Network bekerja berdasarkan mandate organisasi yang selanjutnya dituangkan dalam agenda strategis lembaga. Kami menyimpulkan bahwa praktik penambangan emas di solok selatan dengan contoh wilayah timbahan adalah praktik yang sama sekali tidak mempunyai alas pengetahuan yang jelas. Model penambangan seperti ini adalah model pertambangan barbarian dan mungkin hanya terjadi di solok selatan saja.

Atas dasar hal tersebut, kami meminta kepada pemangku negara untuk segera menghentikan aktivitas pertambangan yang menggunakan alat berat dan dilaksanakan diwilayah-wilayah penyangga kehidupan seperti hutan lindung Batanghari.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>