Pages Navigation Menu

HUTAN BUKIT SOLANG TINGGAL KENANGAN, HUTAN PRODUKSI DITANAM SAWIT.

HUTAN BUKIT SOLANG TINGGAL KENANGAN,  HUTAN  PRODUKSI DITANAM  SAWIT.

Bengkulu – Bukit Solang berdasarkan Tata Ruang Kehutanan Propinsi Bengkulu masuk register 65  Hutan Produksi Terbatas Air Ipuh.1.  Kawasan hutan ini selain memiliki fungsi sebagai wilayah yang diharapkan akan memproduksi hasil hutan dan memiliki fungsi tata air, juga diharapkan menjadi   daerah tangggakan air (catchment area) Sungai Bantal dan dan sungai-sungai kecil maupun besar disekitarnya.

Selain itu berdasarkan Penataan  kawasan strategis Pulau  Sumatera,  kawasan hutan produksi ini menjadi penyangga hutan Taman Nasional Kerinci Seblat.

Sangat disayangkan kawasan hutan di sekitar Buket Solang ini telah terbuka menjadi daerah kebun masyarakat. Tidak kurang dari 300 hektar telah terbukan menjadi lahan kebun sawit dan lahan pertanian lainnya.

Menurut  salah satu masyarakat penggarap di wilayah ini, selain masyarakat asli Mukomuko ada juga masyarakat dari luar seperti dari Propinsi Lampung yang datang menggarap hutan  di Bukit Solang.

Hengki, tim monitoring kawasan hutan dari Yayasan Genesis Bengkulu mengatakan, masyarakat masuk ke Bukit Solang melalui jalan-jalan yang dibutat oleh perkebunan PT. Agromuko wilayah Bunga Tanjung. Jalan-jalan tersebut hingga keperbatasan HPT Air Ipuh 1. Dan dalam kawasan hutan HPT ini juga masyarakat telah membangun jalan tanah yang dapat dilalui oleh kendaraan roda empat hingga jauh masuk dalam kawasan hutan. Tidak kurang dari 3,5 kilometer  jalan yang telah masuk dalam hutan produksi tersebut.

Ditambahkannya berdasarkan pantauan di lapangan, sebagian besar komoditi yang ditanam masyarakat adalah kelapa sawit. Umur tanaman kelapa sawit mereka berpariasi mulai dari umur 1 tahun hingga yang telah produksi.

Barlian Ketua Genesis menjelaskan, merdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat penggarap diketahui, pola penggarapan dan kepemilikan lahan dilakukan masyarakat dengan sistem bagi hasil. Masyarakat dari luar umumnya menggarap lahan milik pemodal lokal dengan sistem bagi hasil. Misalnya lahan yang digarap seluas 3 hektar, maka biaya penggarapan dan biaya hidup ditanggung pemilik tanah dan setelah mulai panen lahan 3 hektar tersebut,  2 hektar milik pemodal  lahan dan 1 hektar diserahkan kepada penggarap.

Berdasarkan informasi dan temuan lapangan ini, Barlian  mengharapkan   pemerintah daerah dapat mencari solusi dan mengatisipasi perluasan garapan dan kerusakan hutan di Bengkulu terutama di wilayah Kabupaten Mukomuko.

………………………………………….

Penulis : Supin Yohar

Kamis, 22 Januari 2014

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>