Pages Navigation Menu

HARIMAU TERKAM DUA EKOR KERBAU DI PUNGGUK MUDIK

HARIMAU TERKAM DUA EKOR KERBAU DI PUNGGUK MUDIK

Sungai Penuh. 05 Januari 2013.

Harimau Sumatra (Phantera Tigris Sumatrae) merupakan salahsatu satwa liar dilindungi karena keberadaannya yang telah langka dan menjadi satwa penting dalam keseimbangan ekosistim alam.

Salah satu habitat alami satwa ini adalah taman nasional kerinci sebelat, kawasan hutan konservasi yang terdapat dalam empat propinsi, jambi, Sumatera barat, sumatera selatan dan Bengkulu.

Kerusakan habitat dan tingginya perburuan satwa yang menjadi mangsa harimau telah mendorong timbulnya konflik antara manusia dan satwa ini.

Roma Indra salah satu Tim LTA (Lembaga Tumbuhan Alami), mengatakan “belum lama ini (25/12/2013) terjadi konflik antara manusia dan harimau di Desa Pungut Mudik Kecamatan Kecamatan Air Hangat Timur  kabupaten Kerinci Propinsi Jambi”.

“Informasi awal terjadi konflik ini diperoleh dari masyarakat. Berdasarkan informasi ini kemudian  kami berkoordinasi dengan Polhut TNKS dan teman-teman dijaringan Akar Network. Kemudian kami melakukan pemantauan di desa untuk menghindari terjadinya konflik lanjutan dan menghindari terjadinya kerugian dari kedua belah pihak”, katanya.

Jejak Harimau P.Mudik

Sartodi Masyarakat Desa Pungguk Mudik mengatakan, “harimau menerkam hewan ternak yang sedang digembalakan di belakang desa dan terjadi  pada sore hari.  Kerbau yang diterkam dua  ekor yaitu   milik Pak Sartodi berupa induk kerbau dan kerbau milik  Pak Herman berupa  kerbau muda, bagian yang diterkam harimau adalah bagian paha belakang”.

Menurut  Rahmad Arifi Polhut TNKS yang  mengunjungi lokasi  kejadian konflik ini, “harimau ini diperkirakan harimau mudah yang berasal dari kawasan hutan yang berada di atas Desa Pungguk Mudik yaitu kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat”.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan  Nomor : P. 48/Menhut-II/2008, Tentang  pedoman penanggulangan konflik antara manusia dan satwa liar   Konflik manusia dan satwa liar adalah segala interaksi antara manusia dan satwa liar yang mengakibatkan efek negatif kepada kehidupan sosial manusia, ekonomi, kebudayaan, dan pada konservasi satwa liar dan atau pada lingkungannya.

Penanggulangan konflik manusia dan satwa liar adalah proses dan upaya atau kegiatan mengatasi atau mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar dengan mengedepankan kepentingan dan keselamatan manusia tanpa mengorbankan kepentingan dan keselamatan satwa liar.

Roma mengatakan, “kami menharapkan jika terjadi konfik satwa dan  manusia untuk secepatnya berkoordinasi dengan peihak terkait seperti Balai-TNKS, Kehutanan atau BKSDA.  Karena  jika tidak cepat ditangani maka ada dua kemungkinan, pertama timbul kerugian masyarakat atau satwa. Apabila  masyarakat melakukan penanganan sendiri seperti membunuh satwa maka akan melanggar peraturan dan perundang-undangan Kehutanan”.

………………………………………….

Penulis : Supin Yohar

@ Januari 2014

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>