Pages Navigation Menu

Diperlukan Peran Aktif Masyarakat  Dalam Menjaga Hutan Di Mukomuko.

Diperlukan Peran Aktif Masyarakat  Dalam Menjaga Hutan Di Mukomuko.

 

Bengkulu, 02 Juni 2016.

Barlian, Direktur Genesis mengatakan, monitoring hutan berbasis masyarakat secara rutin berkontribusi dalam  mengurangi tindakan kejahatan kehutanan di sekitar taman nasional, melalui  kegiatan patroli atau  monitoring kawasan hutan telah mengurani keleluasaan tindakan kejaharan konservasi di dalam kawasan taman nasional atau pun hutan negara di penyangganya.

Dalam monitoring yang dilakukan pada akhir bulan Mei 2016 ditemukan penebangan kayu jenis meranti dalam TNKS, ditemukan 4 titik penebangan, 2 titik tempat penumpukan kayu papan dan balok jenis meranti, serta titik pembukaan lahan. Monitoring dilakukan di Hulu Sungai Gambir Lawe hingga ke Hulu Sungai Air Dikit Kabupaten Mukomuko.

Selain aktivitas pengerusakan habitat, di wilayah ini juga menjadi tempat perburuan burung langka. Saat monitoring ditemukan bekas pondok, tiang bekas perangkap burung. Sebagaimana diketahui TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat)  merupakan wilayah Important Bird Area (IBA) atau daerah penting burung. Tidak kurang dari 306 jenis burung dari 49 family ada wikawasan ini. Dari 306 jenis burung tersebut sebagian besar masuk kategori langka, endemic, dan dilindungi. Karena itu penegakan hukum oleh pihak yang berwenang, Penyadaran dan  monitoring hutan berbasis masyarakat seperti yang dilakukan oleh Tim Genesis bermanfaat dalam menjaga kelestarian hutan dan penyarartahuan masyarakat di sekitar hutan.

Ditambahkannya, dari pantauan Tim lapangan diketahui, tingginya akses ke dalam hutan, dibangunnya jalan pertanian secara swadaya atau dengan memanfaatkan jalan bekas Perusahaan kayu  yang sampai ke batas taman nasional sangat berkontribusi meningkatkan akses dan tekanan terhadap kawasan hutan. Pelaku perburuan, pengambilan kayu ilegal secara umum melalui jalur jalan ini. Selain itu pengankutan kayu melalui jalur sungai.

Supintri Yohar, Koordinator akar Netwok menjelaskan, masyarakat di sekitar hutan memiliki hak dan kewajiban dalam melestarikan hutan agar tetap lestari dan dapat menjadi penyangga kehidupan mereka. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan pada Pasal 48 ayat 2 perlindungan hutan pada hutan negara dilakukan oleh pemerintah, dan ayat 5 untuk menjamin pelaksanaan perlindungan hutan yang sebaik-baiknya, masyarakat diikut sertakan dalam upaya perlindungan hutan.Selanjutnya dalam undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Pasal 30 menyebutkan bahwa Kawasan Pelestarian Alam mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pada Pasal 37, ayat 1 peran serta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna.

“Terkait dengan hak dan kewajiban masyarakat tersebut, Akar Network bersama Genesis Bengkulu dengan Dukungan Program TFCA Sumatera melaksanakan kegiatan monitoring hutan berbasis masyarakat, salah satunya di wilayah kabupaten Mukomuko Propinsi Bengkulu”, jelas Supin.

………………………………….

 

Tim Kampanye Media Akar network.

Jalan Muradi Lorong Sepakat.  RT. I. No. 23. Koto Renah.

Kota Sungai Penuh.  Kerinci.  Propinsi Jambi.Telp/Fax : 0748 71158. Email : akarnetwork@gmail.com

Web: http://akarnetwork.or.id/

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>