Pages Navigation Menu

Aktivis lingkungan kaji dampak pembukaan jalan TNKS

Aktivis lingkungan kaji dampak pembukaan jalan TNKS

Bengkulu (Mei 2016).

Sejumlah aktivis lingkungan dari empat provinsi di Pulau Sumatera mengkaji dampak pembukaan jalan melintasi kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) untuk berbagai kepentingan, salah satunya untuk jalur evakuasi bencana gunung meletus dari Kerinci, Jambi.

Koordinator Aliansi Kerinci Seblat, Supintri Yohar di Bengkulu, Selasa mengatakan rencana teranyar membelah TNKS untuk membangun jalan evakuasi bencana alam diusulkan Gubernur Jambi, Zumi Zola ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Pembukaan jalan ini bukan solusi, tapi justru akan menimbulkan masalah baru seperti longsor, banjir dan memicu berbagai aktivitas ilegal di dalam taman nasional,” ucap Supin.

Para aktivis yang berkumpul di Kota Bengkulu untuk mengkaji dampak pembukaan jalan tersebut antara lain dari Yayasan Lembaga Tiga Beradik (Jambi), Walhi Jambi, Yayasan Genesis (Bengkulu), Kanopi (Bengkulu), Walhi Sumatera Selatan, Walhi Sumatera Barat dan Walhi Bengkulu.

Supin mengatakan pembukaan jalan melintasi TNKS yang diusulkan Pemprov Jambi akan membelah 26 kilometer kawasan TNKS di wilayah Provinsi Jambi.

Jalur yang diusulkan yakni dari Kayu Aro menuju Sungai Kuning yang membelah 10 kilometer TNKS dan dari Sungai Kuning menuju Tanah Tumbuh sepanjang 35 kilometer dan sepanjang 16 kilometer berada dalam TNKS.

“Kemiringan jalur yang dilintasi di atas 45 derajat sehingga pembukaan jalan itu akan memicu longsor,” tukasnya.

Selain itu menurut Supin, pembukaan jalan dari Sungai Kuning (Kerinci) menuju Tanah Tumbuh (Muara Bungo) bukan solusi untuk jalur evakuasi, sebab jalur yang sudah ada yakni dari Kayu Aro menuju Padang Aro, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat lebih memungkinkan untuk ditingkatkan kualitasnya.

Beberapa lokasi di Kecamatan Kayu Aro dan Kecamatan Gunung Kerinci menurut Supin sudah layak dijadikan lokasi titik aman berkumpul dengan radius lebih dari 10 kilometer dari Gunung Kerinci.

Direktur Walhi Bengkulu, Beni Ardiansyah menambahkan, rencana sejumlah pemerintah daerah untuk membuka jalan membelah TNKS sudah dimulai sejak 2006. Selain untuk alasan jalur evakuasi, pembukaan jalan membelah TNKS juga digaungkan untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi.

Sejumlah jalur yang diusulkan dalam kawasan TNKS yakni dari Lempur-Danau Pauh, Rantau Kermas-Bengkulu, Lebong-Merangin, Lebong-Musirawas, dan Sungai Ipuh-Lempur.

“TNKS itu merupakan kawasan strategis yang memiliki fungsi ekologis penting karena itu perlu diselamatkan,” tegasnya.

Kawasan konservasi TNKS sudah ditetapkan sebagai Warisan Dunia atau World Heritage Site seluas 1,3 juta hektare membentang di empat wilayah provinsi yakni Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Sumatera Barat.

Sumber :

http://www.antarabengkulu.com/berita/37338/aktivis-lingkungan-kaji-dampak-pembukaan-jalan-tnks?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=news

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>